Rabu, 09 Juni 2010

Kosa Kata

I. Ungkapan/Idiom
A. Definisi
Yang dimaksud dengan ungkapan adalah kelompok kata atau gabungan kata yang menyatakan makna khusus (makna unsur-unsurnya seringkali menjadi kabur).
B Contoh:
1. kambing hitam = orang yang dipersalahkan
2. ratu dunia = surat kabar
3. dewi malam = bulan
4. raja siang = matahari
5. raja sehari = pengantin
6. raja hutan = harimau
7. raja binatang = singa
8. raja singa = penyakit kelamin/penyakit sifilis
9 bunga bangsa = pahlawan
10. bunga tidur = mimpi
11. bunga uang = renten
12. bunga tanah = humus
13. bunga desa = gadis
14. buah tangan = oleh-oleh
15. buah pikiran = pendapat
16. buah baju = kancing
17. buah bibir = bahan pembicaraan
18. buah hati = kekasih
19. naik daun = sedang populer
20. naik kuda hijau = mabuk
21. naik pitam = marah
22. meja hijau = pengadilan
23. masih hijau = belum berpengalaman
24. tebal muka = tidak punya rasa malu
25. bermuka dua = munafik
26. bermulut besar = suka membual/membohong
27. bersilat lidah = pandai memutarbalikan fakta
28. manis mulut = pandai merayu
29. mulut buaya = ucapan yang belum tentu kebenarannya
30. mulut harimau = bahaya besar/kesulitan besar
31. mulut rambang = banyak cakap
32. panjang tangan = suka mencuri
33. angkat tangan = menyerah
34. tangan kanan = orang yang dipercaya/pembantu utama
35. kaki tangan = orang yang diperalat orang lain untuk membantu
36. angkat kaki = pergi
37. angkat topi = menaruh hormat, kagum
38. tulang punggung = tumpuan harapan
39. gulung tikar = bangkrut
40. putih tulang = mati
41. putih mata = mendapat malu
42. makan tanah = miskin sekali
43. makan tangan = beruntung besar
44. kepala batu = keras kepala; tidak mau menuruti nasihat orang lain
45. kepala raja = prangko
46. besar kepala = sombong
47. tinggi hati = sombong, angkuh
48. rendah hati = tidak sombong
49. rendah diri = merasa dirinya kurang
50. hitam putih = keadaan yang sebenarnya

51. akal bulus = akal kancil = akal keling = akal labah-labah = akal ubi=
tipu muslihat yang licik
52. hilang akal = bingung; tidak dapat berpikir lagi
53. hilang ingatan = berubah akal; gila; pingsan
54. gigi air = tepi sebagai pertemuan air laut dengan lengkung langit
55. unjuk gigi = menunjukkan kekuatan
II. Peribahasa
A. Definisi
Yang dimaksud dengan peribahasa adalah (1) kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan); (2) ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku.

B. Contoh:
1. Pucuk dicinta ulam tiba = mendapat sesuatu yang lebih daripada apa yang diharapkan.
2. Air beriak tanda tak dalam = banyak cakapnya tetapi sedikit pengetahuannya.
3. Air tenang menghanyutkan = sedikit cakapnya tetapi banyak pengetahuannya
4. Air diminum rasa duri nasi dimakan rasa sekam = tak enak makan dan minum karena hati sangat terganggu.
5. Air susu dibalas dengan air tuba = kebaikan dibalas dengan kejahatan.
6. Berguru kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi = belajarlah sungguh-sungguh, jangan tanggung-tanggung.
7. Lubuk akal tepian ilmu = kaum cerdik pandai tempat kita bertanya.
8. Bagai anjing menyalak di ekor gajah = seseorang yang hina melawan orang yang mulya lagi berkuasa, tentu tak dapat.
9. Bagai aur dengan tebing = hidup rukun dan damai.
10. Api padam puntung berasap = perkaranya sudah selesai akan tetapi muncul kembali.
11. Angus tiada berapi karam tiada berair = sangat sedih karena ditimpa kemalangan yang besar.
12. Terapung sama hanyut terendam sama basah = seia-sekata,sehina-semalu.
13. Seciap bagai ayam sedencing bagai besi = seia-sekata, sehina-semalu.
14. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing = seia-sekata, sehina-semalu.
15. Berjalan sampai ke batas berlayar sampai ke pulau = mengerjakan sesuatu hendaklah sampai tuntas.
16. Ada batang cendawan tumbuh = di mana kita berada di sanalah kita mendapat rezeki.
17. Menggantang asap mengukir langit = pekerjaan atau cita-cita yang sia-sia.
18. Terapung tak hanyut terendam tak basah = perkaranya belum selesai.
19. Telunjuk lurus kelingking berkait = tak dapat dipercaya, tak jujur.
20. Ayam hitam terbang malam = perkara yang amat gelap, tak ada bukti sedikit pun.
21. Berdiri sama tinggi duduk sama rendah = sama kedudukannya, sederajat.
22. Dahulu timah sekarang besi = seseorang yang turun derajatnya.
23. Seperti telur di ujung tanduk = keadaan yang sangat sulit.
24. Lain padang lain belalang = berlainan negeri berlainan pula adat-istiadatnya.
25. Masuk tiga keluar empat = pengeluaran lebih banyak daripada pendapatan.
26. Tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan = tak berubah, tetap selama-lamanya.
27. Tiba di perut dikempiskan tiba di mata dipicingkan = tidak adil dalam memutuskan perkara.
28. Patah tumbuh hilang berganti = yang tua digantikan oleh yang muda.
29. Mengukur baju di badan sendiri = menentukan keadaan orang dengan menyamakannya dengan diri sendiri.
30. Tiada rotan akar pun berguna = jika barang yang baik tak ada, maka yang tak baik pun jadilah.
31. Sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna = segala sesuatu yang akan kita kerjakan sebaiknya dipertimbangkan baik buruknya agar tidak mengecewakan akhirnya.
32. Tangan mencencang abhu memikul = kita akan menerima segala hukuman atau pengajaran dari semua perbuatan kita.
33. Janganlah bermain di air keruh = janganlah terpengaruh oleh contoh yang buruk.
34. Mengambil contoh kepada yang sudah, mengambil tuah kepada yang menang = pekerjaan waktu lampau yang telah memberikan hasil lebih baik hendaklah dijaadikan teladan.
35. Sepandai-pandai tupai melompat, sekali-kali gawal juga.
36. Biduk berlalu kiambang bertaut = sesudadh berselisih keluarga itu baik kembali, kita yang mencampuri mereka mendapat malu.
37. Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang juga = walaupun kita sudah mati, kebajikan kita tak mudah dilupakan orang.
38. Terlepas dari mulut buaya masuk ke mulut harimau = terhindar dari suatu kemalangan masuk ke dalam kemalangan yang lebih besar.
39. Bergantung pada akar lapuk = mengharapkan bantuan dari orang yang tidak dapat menolong kita.
40. Melepaskan anjing terjepit, sesudah lepas dia menggigit = mendapat kesusahan dari orang yang kita tolong, karena ia tak tahu membalas budi.
41. Guru kencing berdiri murid kencing berlari = contoh dari guru yang jelek mudah sekali ditiru siswanya, bahkan bisa lebih hebat dari kejelekan guru tersebuit.
42. Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai = memiliki cita-cita yang tinggi, akan tetapi tak mampu untuk mencapainya.
43. Gayung bersambut kata berjawab = mendengarkan dahulu kata-kata orang lain yang ditujukan kepada kita, baru kita mendapat giliran untuk memberikan jawaban kepadanya.
44. Angan-angan mengikat tubuh = pikiran yang banyak menyusahkan diri kita
45. Seperti musang berbulu ayam = pura-puraa berbuat baik untuk menyembunyikan kesalahannya.
46. Air besar batu bersibak = sanak famili bila terjadi perselisihan besar maka berceraiberailah orang-orang itu.
47. Air pun ada pasang surutnya = nasib seseorang tidak akan tetap.
48. Seperti api dalam sekam = kejahatan yang tidak kelihatan karena disembunyikan.
49. Alah bisa karena biasa = pekerjaan itu sekalipun sukar tetapi kalau dikerjakan berulang-ulang mudah juga jadinya.
50. Asam di gunung garam di laut = berlainan negerinya akan tetapi kalau sudah jodoh menikah juga.


III. Kata Baku dan Kata Tidak Baku

A. Definisi
Yang dimaksud dengan kata baku adalah kata yang sudah dijadikan standar dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Adapun yang dimaksud dengan kata tidak baku adalah kata yang dipergunakan dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan namun tidak mengikuti kaidah yang berlaku.





B. Contoh

Nomor Pelafalan kata tidak baku Pelafalan kata baku
1. Erobik Aerobik
2. Ahir Akhir
3. Aktip Aktif
4. Aktifitas aktivitas
5. Analisa analisis
6. Anggauta anggota
7. Antri antre
8. Apotik apotek
9. Gimana bagaimana
10. Brandal berandal
11. Cinderamata cenderamata
12. Nyolok colok
13. Debet debit
14. Detil detail
15. Diumpetin disembunyikan
16. Epektip efektif
17. Aestetika estetika
18. Faidah faedah
19. Frikwensi frekuensi
20. Pilsapat filsafat
21. Poto foto
22. photo copy fotokopi
23. Pondamental fundamental
24. Gajih gaji
25. Gambelang gamblang
26. Hakekat hakikat
28. Ihlas ikhlas
29. Ihtiar ikhtiar
30. Indera indra
31. Isteri istri
32. Ijajah ijazah
33. Ijin izin
34. Jadual jadwal
35. Jampe jampi
36. Gembel jembel
37. Karir karier
38. Harisma karisma
39. Kongkrit konkret
40. Konsekwensi konsekuensi
41. Kwitansi kuitansi
42. Lasykar laskar
43. Legalisir legalisasi
44. Majlis majelis
45. ma’lum maklum
46. Minijmen manajemen







IV. Makna Kata
1. Makna denotatif = makna lugas = makna harfiah = makna leksikal = makna yang sebenarnya = makna kamus = makna kata perkata
2. Makna konotatif = makna kias = makna gramatikal = makna struktural = makna tambahan = makna bukan sebenarnya

Contoh:

Nomor Makna Leksikal/Denotatif Makna Gramatikal/Konotatif
1. Rambut saya hitam. Temanku terjerumus ke dunia hitam.
2. Tali jemuran itu putus. Ia baru saja putus cinta.
3. Karena kehujanan baju saya basah. Pamanku bekerja di tempat yang basah.
4. Samudera Pasifik luas sekali. Pengetahuannya luas sekali.
5. Gang menuju ke rumahku sempit. Pikirannya sangat sempit.
6. Temanku memakai gaun berwarna hijau. Temanku masih hijau
7. Giginya putih. Hatinya putih.
8. Adikku sedang menarik mobil-mobilan. Pertunjukkannya menarik perhatian penonton.
9. Ia jatuh ke parit. Ia sedang jatuh cinta.
10. Kelasnya cukup bersih. Hatinya bersih.







V. Gaya Bahasa/Majas

A. Definisi

Yang dimaksud dengan gaya bahasa ialah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan. Sedangkan yang dimaksud majas ialah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakan dengan sesuatu yang lain; kiasan.

B. Pembagian Gaya Bahasa/Majas

Pada dasarnya gaya bahasa dibagi menjadi empat kelompok besar, yaitu:

1. Gaya Bahasa Perbandingan

a.Metafora, yaitu gaya bahasa yang membandingkan sesuatu dengan benda lain. (benda itu mempunyai sifat yang sama)
Contoh: - Raja siang baru bangun dari tempat peraduannya. (matahari)
- Si Badu sekarang menjadi sampah masyarakat. (orang yang tidak berguna lagi dalam masyarakat)
- Si Jago Merah melalap perumahan elite di kawasan Puncak Bogor. (api)

b.Personifikasi, yaitu gaya bahasa yang membandingkan benda mati diumpamakan dengan benda yang bernyawa/dapat bergerak.
Contoh: - Gelombang samudera tampak berkejar-kejaran.
- Pulpen menari-nari di atas kertas.


c Asosiasi, yaitu gaya bahasa yang memberikan perbandingan terhadap suatu benda yang sudah disebutkan. Perbandingan itu menimbulkan asosiasi terhadap benda tadi sehingga gambaran itu menjadi lebih jelas.
Contoh: - Mukanya pucat bagai mayat.
- Semangatnya keras bagai baja.

d.Metonimia, yaitu gaya bahasa yang menggunakan sepatah kata atau sebuah nama yang berasosiasi dengan suatu benda.
Contoh: - Ayah selalu mengisap Commodore. (jenis rokok)
- Dia datang memakai Avanza bukan Soluna. (jenis mobil)

e.Simbolik, yaitu gaya bahasa kiasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda sebagai simbol/perlambang.
Contoh: - Lintah darat itu berjalan dengan angkuhnya.. (pemkaan riba)
- Sikapmu harus tegas jangan seperti bunglon. (lambang orang yang tidak pendiriannya)

f.Litotes, yaitu gaya bahasa yang menggunakan kata yang berlawanan artinya dengan maksud merendahkan diri terhadap orang yang diajak bicara.
Contoh: - Bila Tuan ada waktu sudilah kiranya mampir ke gubuk kami. (rumah yang sebenarnya adalah rumah mewah)
- Apa yang dapat Bapak harapkan dari, ilmu tiada harta pun tak punya. (orang yang sebenarnya cukup segalanya)

g. Eufemisme (ungkapan pelembut), yaitu gaya bahasa yang menggunakan sebnuah kata untuk mengganti kata lain dengan tujuan agar lebih sopan atau menghindari tabu/pamali.
Contoh: - Nilai ulangan kalian hari ini kurang memuskan. (jelek)
- Sebenarnya anak Ibu pandai, hanya kurang rajin saja. (bodoh)

h.Alegori, yaitu gaya bahasa yang memperlihatkan suatu perbandingan utuh. Beberapa perbandingan yang bertaut satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan yang utuh.

Contoh: - Nakhoda dan jurumudi harus mampu mengarungi lautan hidup. (suami dan istri)
- Biduk terkatung-katung di tengah lautan. (kapal = kehidupan)

i. Tropen, yaitu gaya bahasa kiasan yang mempergunakan kata-kata yang tepat dan sejajar artinya dengan pengertian yang dimaksud.
Contoh: - Besok Bapak Presiden akan terbang ke Bandung.
- Sepanjang hari ia berkubur saja di kamarnya.

j. Parabel, yaitu gaya bahasa yang terkandung dalam seluruh karangan. Dalam karangan itu tersimpul pedoman hidup yang harus ditimba dari dalamnya. Untuk keperluan tersebut dapat kita peroleh dari buku Bhagawat Gita, Bayan Budiman, Hikayat Kalilah dan Dimnah.

k. Sinekdokhe, yaitu gaya bahasa yang menyatakan sebagian untuk seluruh atau seluruh untuk sebagian. Gaya bahasa ini terbagi dua, yakni:
1) Pars pro toto (sebagian untuk seluruh)
Contoh: - Dia membeli tiga ekor lembu. (yang dimaksud adalah lembu yang utuh, bukan hanya sekadar ekor)
- Dari pagi syaa belum melihat batang hidung si Andre. (yang dimaksud adalah badan secara keseluruhan, bukan sekadar hidungnya saja)

2) Totem pro parte (seluruh untuk sebagian)
Contoh: - Indonesia memperoleh 2 (dua) medali emas dalam pertandingan olah raga di Barcelona. (peraih emas adalah Susi Susanti dan Alan Budikusuma)
- Sekolah kami memperoleh trofi dalam kejuaraan Bulutangkis se- Kabupaten Subang. (peraih trofi adalah peserta yang ikut olah raga)

l. Hiperbolisme, yaitu gaya bahasa yang menggunakan sepatah kata tetapi diganti oleh kata lain dengan memberikan pengertian lebih hebat dari kata semula.
Contoh: - Suaranya keras membelah angkasa.
- Perselisihan antara Palestina dan Bani Israil semakin memuncak.

m. Alusio, yaitu gaya bahasa mengias dengan mempergunakan peribahasa atau ungkapan yang sudah lazim/menggunakan sampiran pantun yang isinya sudah umum dimaklumi.
Contoh:: - Janganlah kamu seperti kura-kura dalam perahu.
- Keadaanku bagai makan buah si malakama, dimakan ibu mati, tak dimakan ayah mati. (keadaan serba sulit)

n. Antonomasia, yaitu gaya bahasa yang memakai atau memanggilnama orang yang bukan nama aslinya.
Contoh: - Si Gemuk sedang belajar.
- Si Botak baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah.

o. Perifrasis, yaitu gaya bahasa penguraian. Sepatah kata diganti dengan uraian yang artinya sama.
Contoh: - Kuda besi itu berlari terus. (kereta api)
- Jangan terlalu materialistis. (mempertuhankan harta benda)


2. Gaya Bahasa Sindiran:

a. Ironi, yaitu gaya bahasa sindiran. Yang dikatakan adalah hal yang bertolak belakang.
Contoh: - “Hai, engkau hampir kesiangan, ya?” (sebenarnya bukan hampir lagi tetapi sudah kesiangan)
- Tulisanmu bagus sekali. (jelek)


b.Sinisme, yaitu gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari ironi.
Contoh: - Harum benar badanmu.
- Muntah aku melihat mukamu.

c.Sarkasme, yaitu gaya bahasa yang paling kaasar. Biasanya gaya bahasa ini ditampilkan oleh orang yang sedang marah.
Contoh: - Hai anjing, keluar kamu dari sini!
- Dun, mukamu kaya monyet, jijik aku melihatnya.

3. Gaya Bahasa Penegasan:

a. Pleonasme, yaitu gaya bahasa yang memakai kata-kata yang sebenarnya tidak perlu.
Contoh: - Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri. (Aku menyaksikannya sendiri)
- Balon itu terbang ke angkasa. (Balon itu terbang)

b.Repetisi, yaitu gaya bahasa yang menggunakan pengulangan kata-kata.
Contoh: - Selama kita masih sehat, selama kita masih punya uang, selama kita punya harapan masa depan, kita tidak boleh menghambur-hamburkan usia.
- Kebahagiaan takj usah kau cari ke mana-mana, kebahagiaan tidaklah diperjualbelikan, kebahagiaan ada dalam sanubari kita masing-masing.

c.Paralelisme, yaitu gaya bahasa pengulangan dalam bentuk puisis. Bila kata yang diulang pada awal kalimat disebut anafora, sedangkan pada akhir kalimat disebut epifora.

Contoh: Junjunanku

Apatah kekal
Apatah tetap
Apatah tak bersalin rupa
Apatah boga sepanjang masa. (Oleh Amir Hamzah)

=====================

Kalau kau mau, aku akan datang
Jika kau kehendaki, aku akan datang
Bila kau minta, aku akan datang

d.Tautologi, yaitu gaya bahasa penegasan dengan mengulang beberapa kali kata yang ada dalam kalimat. Dapat pula menggunakan beberapa kata bersinonim berturut-turut dalam sebuah kalimat.
Contoh: - Disuruhnya aku bersabar, bersabar, dan bersabar lagi, namun aku tak sabar.
- Orang yang berbudi, ramah, dan baik hati seperti dia hidupnya tidak akan susah.

e. Klimaks, yaitu gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin lama makin menghebat..
Contoh: - Dari kecil, remaja, dewasa, sampai setua ini engkau belajar tak pandai-pandai.
- Sepeda, motor, dan mobil ikut memeriahkan HUT ke-62 Republik ndonesia.

f.Antiklimaks, yaitu gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin lama makin mengecil.
Contoh: - Kakeknya, ayahnya, dia sedniri, bahkan anaknya sendiri tak luput dari penyakit itu.
- Gajah, kambing, kelinci, dan katak ditelitinya di laboratorium.

g Interupsi, yaitu gaya bahasa yang predikatnya lebih dipentingkan daripada subjek.
Contoh: - Besar sekali gajinya.
- Terang benar bulan.

h.Elipsi, yaitu gaya bahasa yang menggunakan kalimat dengan tidak menyebutkan subjek atau objeknya karena sudah diketahui.
Contoh: - Pergilah!
- Mencuri lagi, tak jera-jeranya dihukum

i. Retoris, yaitu gaya bahasa penegasan yang menggunakan kalimat mengajak, tanya-tak bertanya. Sering menyatakan kesangsian atau mengajak. Dalam bahasa pidato bukan dimaksudkan untuk bertanya melainkan untuk menegaskan.
Contoh: - Siapakah orangnya yang mau hidup susah?
- Inikah yang kaunamai bekerja?

j. Koreksio, yaitu gaya bahasa yang dipakai untuk membetulkan ucapan, baik disengaja ataupun tidak.
Contoh: - Dia adikku, eh bukan, kakakku.
- Kamu sebenarnya bodoh, eh bukan, pandai maksudku.

k. Asindeton, yaitu gaya bahasa yang menggunakan kata-kata tanpa kata penghubung.
Contoh: - Meja, kursi, lemari, lintang pukang saja di luar.
- Dia memelihara kambing, kerbau, kuda, sapi, yang kesemuanya didatangkan dari luar negeri.


l. Polisindeton, yaitu gaya bahasa yang menggunakan kata penghubung dalam sebuah kalimat
Contoh: - Setelah pekerjaannya selesai, maka berkemas-kemaslah dia akan pulang, karena hari sudah mulai gelap, lagipula mendung-mendung tanda hari akan hujan.

m. Interupsi, yaitu gaya bahasa penegasan yang menggunakan sisipan kata atau frase di tengah-tengah kalimat pokok, dengan maksud untuk menjelaskan sesuatu dalam kalimat tersebut.
Contoh: - Tiba-tiba ia ------------suami itu------------ direbut perempuan lain.

n. Eksklamasio, yaitu gaya bahasa yang memakai kata-kata seru untuk penegasan.
Contoh: Wah, biar, b iar kupeluk, ah, dengan tangan menggigil.

o.Enumerasio, yaitu gaya bahasa yang mengungkapkan suatu peristiwa dengan memerinci tiap-tiap peristiwa itu sehingga tergambar secara keseluruhan.
Contoh: - Laut tenang. Di atas permadani biru itu tampak satu perahu nelayan melancar perlahan-lahan. Angin berhembus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan tenangnya. Dst.

p.Praterito, yaitu gaya bahasa yang digunakan pengarang dengan cara menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu. Pembaca dibiarkan mengungkapkan sendiri apa yang sengaja dihilangkan atau tidak disebutkan.
Contoh: - Apakah gunannya kukatakan lagi? Bukankah itu sudah menjadi rahasia umum?
- Saya takkan berpanjang kalam lagi tentang soal itu.

4. Gaya Bahasa Pertentangan:

a. Paradoks, yaitu gaya bahasa yang kelihatannya seolah-olah ada hal-hal yang dipertentangkan, tetapi jika diteliti dengan saksama ternyata tidak, karena objek yang dikemukakan berlainan.
Contoh: - Dia kaya tetapi miskin. (maksudnya kaya harta miskin ilmu)
- Dia pendek tetapi panjang. (maksudnbya pendek orangnya panjang akalnya)


b. Antitesis, yaitu gaya bahasa pertentangan yang menggunakan paduan kata yang berlawanan arti.
Contoh: - Tua muda, besar kecil, pria wanita hadir dalam pertemuan itu.
- Kaya miskin, pandai bodoh, malas rajin semuanya adalah hamba Allah.

c.Kontradiksio, yaitu gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apoa yang dikatakan semula. Apa yang sudah dikatakan disangkal lagi oleh ucapan kemudian.
Contoh: - Semua peserta rapat sudah hadir, kecuali si Amir.
- Semua siswa wajib mengikuti Upacara Bendera, kecuali orang yang sedang sakit.

d.Anakhronisme, yaitu gaya bahasa yang menunjukkan bahwa sesuatu diterangkan dengan tidak sesuai dengan sejarah.
Contoh: - Waktu Perang Badar Rasulullah menggunakan senjata Patriot. (waktu itu belum ada senjata Patriot, meainkan dengan panah dan gada)
- Dalam karangan Julius Caesar, Shakespeare menuliskan “Jam berbunyi 3 kali”. Hal itu bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya.


VI. Gejala Bahasa

1. Perubahan Makna:
a. Meluas, yaitu cakupan makna lebih luas daripada makna lama.
Contoh: arti dulu : bapak/saudara (dipakai dalam hubungan biologi)
arti sekarang : bapak/saudara (semua orang yang leb ih tua/lebih tinggi kedudukannya)
arti dulu : putra-putri (hanya dipakai untuk anak-anak raja)
arti sekarang : putra-putri (semua anak laki-laki dan wanita)

b. Menyempit, yaitu cakupan makna dulu lebih luas daripada makna sekarang.
Contoh: arti dulu : sarjana (orang yang pandai/cendekiawan)
arti sekarang : sarjana (orang yang lulus dari perhuruan tinggi dengan mengambil program S1)
arti dulu : pendeta (orang yang berilmu)
arti sekarang : pendeta (panggilan guru agama Kristen/Domine)

c. Amelioratif, yaitu makna baru dirasakan lebih tinggi/lebih baik nilainya daripada makna lama.
Contoh: - kata wanita dirasakan lebih baik nilainya daripada kata perempuan
- kata istri dirasakan lebih baik nilainya daripada kata bini

d. Peyoratif, yaitu makna baru dirasakan lebih rendah nilainya daripada makna lama.
Contoh: - kata kaki tangan = arti dulu = pembantu
= arti sekarang = orang yang diperalat orang lain untuk membantu
- kata bini/perempuan = arti dulu = dirasakan baik
= arti sekarang = dirasakan kurang baik

e. Sinestesia, yaitu pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan
Contoh: - kata pedas dalam kalimat, “Kata-katanya pedas.” (pedas sebenarnya untuk indra perasa, akan tetapi bisa digunakan untuk indra pendengar)
- kata sedap dalam kalimat, “Suaranya sedap didengar.” (sedap sebenarnya untuk indra perasa, akan tetapi bisa digunakan untuk indra pendengar)


f. Asosiasi, yaitu mulnculnya makna baru akibat peramaan sifat.
Contoh: - catut = alat untuk mencabut paku ataua benda lain
= orang yang menjual barang-barang dengan harga tinggi
- amplop = sampul surat
= uang sogok

2. Perubahan Bentuk Kata:
a. Asimilasi, yaitu perubahan dua buah fonem yang tidak sama menjadi sama.
Contoh: - alsalam = assalam = asalam
- ad similatio = assimilasi = asimilasi
- in moral = immoral = imoral

b. Disimilasi, yaitu perubahan dua buah fonem dari yang tidak sama menjadi sama.
Contoh: - vanantara = belantara
- citta = cipta
- sajjana = sarjana
- rapport = lapor
- teranta = telantar
- berajar = belajar
- lauk-lauk = lauk-pauk
- sayur-sayur = sayur-mayur

c. Diftongisasi, yaitu perubahan dari bentuk monoftong menjadi diftong.
Contoh: - pulo = pulau
- dano = danau
- pante = pantai

d. Monoftongisasi, yaitu perubahan dari bentuk diftong menjadi monoftong.
Contoh: - tauladan = teladan
- sentausa = sentosa
- anggauta = anggota
- manteiga = mentega
- parceiro = persero

e. Haplologi, yaitu penghilangan suatu silaba (suku kata) di tengah-tengah kata.
Contoh: - samanantara (Skt: sama + an + antara) = sementara
- mahardika (Skt: maha + ardhika) = merdeka
- budhidaya = budaya
- .tapian na uli = Tapanuli

f. Anaptiksis (= suara bakti), yaitu proses penambahan suatu bunnyi dalam suatu kata guna melancarkan ucapan.
Contoh: - sloka = seloka
- glana = gelana, gulana
- istri = isteri
- srigala = serigala

g. Metatesis, yaitu pertukaran dua buah fonem dalam suatu kata.
Contoh: - padma = padam
- drohaka = durhaka
- pratyaya = percaya
- pekul = peluk
- beting = tebing
- telut = lutut
- banteras = berantas
- reca = arca
- apus = usap = sapu
- kelikir = kerikil
- almari = lemari
- resap = serap
- lebat = tebal
- rontal = lontar





h. Aferesis, yaitu penghilangan satu atau lebih fonem pada awal sebuah kata.
Contoh: - tathapi = tetapi = tapi
- adhyaksa = jaksa
- upawasa = puasa
- velocipede = sepeda
- pepermint = permen

i. Sinkop, yaitu penghilangan satu atau lebih fonem pada tengah sebuah kata.
Contoh: - utpatta = upeti
- niyata = nyata

j. Apokop, yaitu penghilangan satu atau lebih fonem pada akhir sebuah kata.
Contoh: - pelangit = pelangi
- possesive = posesif
- adjektiva = ajektif

k. Protesis, yaitu penambahan suatu fonem pada awal kata.
l. Epentesis, yaitu penambahan suatu fonem pada tengah kata.
k. Paragog, yaitu penmabahan suatu fonem pada akhir kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar